Senin, 02 September 2013

Berobat Lapar ke Soto Bang Dul Pekalongan

Rasa lapar di mana pun dapat terjadi, apalagi jika rasa laparnya sudah akut tobat deh jika tidak segera di carikan obat. Hal itu terjadi pada diri saya ketika perjalanan dari Jogja ke Pemalang. Rasa lapar akut mendera saya ketika perjalanan sampai di daerah Pekalongan akhirnya istri saya mengajak berobat ke Soto Bang Dul yang berlokasi di Jl. Dr. Sutomo Pekalongan atau tepatnya di depan Asrama Brimob Kota Pekalongan.


Dilihat dari luar tempatnya tidak begitu luas, tetapi setelah kita masuk tempatnya lumayan luas. Menu yang ditawarkan antara lain soto ayam, soto daging sapi dan soto daging kerbau yang ditambah tauco (Tauco adalah bumbu makanan yang terbuat dari biji kedelai yang telah direbus, dihaluskan dan diaduk dengan tepung terigu kemudian didibiarkan sampai tumbuh jamur). Karena saya tidak suka tauco maka kami memesan soto ayam biasa tanpa tauco.
Soto ini berisi bihun, ayam, loncang, bawang putih dan bawang merah goreng lalu ditaburi irisan seledri, usus goreng dan kulit goreng yang renyah. Usus goreng ini yang bikin tambah nafsu meningkat drastis apalagi ditambah sambal dan perasan jeruk nipis rasanya jadi tambah segar.
Satu porsi soto ayam di sajikan dengan nasi terpisah sudah membuat perut kami kenyang dan rasa lapar akut terobati sudah. Jadi buat pembaca yang kebetulan melewati Pekalongan Soto Bang Dul bisa jadi alternatif wisata kuliner anda.
 

Jumat, 30 Agustus 2013

Sendhang Sidhukun Traji Parakan

gapura masuk sendhang
Secara administratif Sendang Sidhukun berlokasi di Desa Traji, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Sendhang Sidhukun di daerah Traji  Parakan sudah sangat dikenal terlebih jika pada saat malam 1 Suro, karena pada saat malam tersebut selalu diadakan acara ritual.
Warga Desa Traji memiliki tradisi ritual yang dimulai pada malam 1 Suro yakni menggelar pertunjukan wayang kulit selama tiga hari berturut-turut, berdoa bersama di Sendang Sidhukun dan kemudian mengambil air yang diyakini penuh berkah dari sendang tersebut.
pendopo di Sendhang Sidhukun
Acara ritual tersebut juga berkaitan dengan cerita mas lalu yang mengiringinya. Konon, saat itu ada dalang bernama Garu, yang diperintah untuk mendalang oleh warga setempat. Selesai mendalang, ternyata dia dibayar dengan Kunir. Palawija itu pun dibawanya pulang ke rumah. Tetapi alangkah terkejutnya, saat di tengah-tengah perjalanan kunir tersebut berubah menjadi emas 24 karat.
 Adanya keanehan itu, kemudian menyadarkan dalang asal Kecamatan Kedu ini,  bahwa sebenarnya yang memerintah mendalang bukan manusia, tetapi makhluk-makhluk gaib. Apalagi setelah bertemu dengan lurah setempat, ternyata lurah itu mengatakan bahwa warganya tidak pernah meminta dalang Garu untuk mendalang.
''Mendengar cerita dalang tersebut, justru kemudian lurah memerintahkan dalang Garu untuk menggelar wayang kulit setiap 1 Suro, yang kemudian sampai sekarang menjadi tradisi,''ungkap Suwari.
air sendhang yang segar
Pagelaran wayang kulit ini diyakini akan berpengaruh pada keberhasilan kehidupan mereka. Sebab, selain sebagai salah satu bentuk persembahan terima kasihnya kepada alam, juga dalam cerita wayang mengandung ajaran-ajaran tentang filosofi hidup.

Plengkung Merah Campursari Bulu Temanggung

terowongan merah
Dilihat dari bentuknya bangunan ini tidak begitu melengkung tetapi masih bisa dikatagorikan melengkung atau orang Jawa menyebutnya plengkung. Lokasi plengkung berada di Desa Campursari Bulu , Temanggung, Jawa Tengah.
di atas plengkung
Masih berkaitan dengan terowongan di Medari Sleman, ternyata plengkung Campursari dulunya adalah jalur rel kereta api. Karena jalur rel kereta api sudah tidak berfungsi sekarang plengkung ini dialih fungsikan menjadi jembatan penyeberangan. Di bawah plengkung ada tiga terowongan yang bisa dilewati kendaraan baik roda dua maupun roda empat.
view dari atas plengkung

Kamis, 29 Agustus 2013

Yang tersisa dari terowongan Ganjuran Medari Sleman

Berawal dari membaca blog sahabat tentang foto terowongan di daerah Medari, akhirnya saya bisa temukan juga lokasi bekas terowongan yang dulunya pernah dilewati jalur kereta api jurusan Magelang-Yogyakarta.
Lokasinya berada di Desa Ganjuran Caturharjo Sleman Yogyakarta. Untuk menuju lokasi pembaca bisa melewati jalan Magelang, sebelum pom bensin Medari belok ke kiri, ikuti saja jalan tersebut dari kejauhan sudah tampak.

Jembatan Blaburan- Jembatan di perbatasan Jogja-Magelang

Jembatan ini berada di Dusun Blaburan, Desa Bligo, Kecamatan Ngluwar, Magelang. Letaknya berbatasan dengan dua daerah yaitu wilayah Sleman dan wilayah Magelang.
Panjang jembatan kurang lebih 25 meter. Ada dua jembatan, di sisi utara adalah jembatan lama dan sudah tidak dipergunakan sedangkan di sisi selatan adalah jembatan baru yang sampai sekarang masih dipergunakan.
jembatan lama

jembatan baru
Pada saat jalur Jogja-Magelang terkena banjir lahir dingin gunung Merapi, jembatan Blaburan menjadi jalur alternatif Jogja-Semarang. Ini kali ke tiga saya melewatinya dan berkesempatan mengabadikannya.
tugu batas wilayah Jawa Tengah

Gereja Santo Lukas Pemalang



Berlokasi di jalan Pemuda No.28 Telp. (0284) 321284 Pemalang 52313

Senin, 19 Agustus 2013

Oleh-Oleh Khas

Libur Lebaran telah berakhir waktunya untuk kembali bekerja menjalani rutinitas. Biasanya jika seseorang bekerja ke luar daerahnya dan akan kembali lagi di tempat mereka bekerja tidak lupa membawa oleh-oleh khas daerah masing-masing.
macam-macam oleh-oleh
Begitu juga dengan yang saya alami, saya pun juga berniat membeli oleh-oleh untuk rekan kerja maupun tetangga di tempat saya tinggal.
aneka produk bakpia
Oleh-oleh yang diberikan tidak harus banyak yang penting keiklasan dan sebagai jalinan silahturahmi. Karena dari Jogja saya belikan oleh-oleh khas yaitu bakpia dan sebagai tambahan saya juga membeli gethuk khas Magelang.
bakpia macam rasa
Macam-macam bakpia di sajikan dari yang bakpia basah atau kering, macam rasanya juga bervariasi dari rasa keju, durian , atau kacang hijau silahkan tinggal pilih yang mana kita suka.

Senin, 22 Juli 2013

Gereja St. Ignatius, Magelang


Gereja Katolik St. Ignatius Magelang berlokasi di Jl.Laksda Yos Sudarso No.6 Magelang kalau dari arah Jogja sampai alun-alun kota Magelang belok ke kiri.

Catatan Awal Sejarah Gereja St. Ignatius Magelang
image by Albertus Gregory
  
ROMO VOOGEL SJ 
Dalam sejarah misi Katolik di Jawa, sejak tahun 1865 tercatat dua orang anak bernama Yoseph dan Sanisa dipermandikan di Magelang. Namun jangan dibayangkan kalau permandian itu dilakukan di sebuah gereja yang megah seperti gereja Ignatius sekarang ini. Sebab, baru pada tahun 1890 tanah yang kemudian menjadi komplek gereja ini dibeli oleh Romo F.VOOGEL, SJ. Kebetulan di atas tanah itu sudah ada suatu bangunan yang untuk sementara dijadikan tempat peribadatan.
image by Albertus Gregory
Pembangunan gerejanya sendiri baru tercatat dilakukan pada tanggal 31 Juli 1899. Setahun kemudian, pada 22 Agustus 1890, sudah dapat digunakan untuk mempersembahkan misa kudus. Sedangkan pemberkatan gedung secara meriah pada 30 September 1900, dalam misa konselebrasi yang dipimpin Romo Mgr.LUYPEN,SJ dari Batavia, denagn didampingi oleh Romo MUTZAER SJ dari Cirebon, Romo ASSELBERGS,SJ dari Jogya, Romo FISHER dan ROMO HEUVEL dari Magelang. Sedangkan Romo F. VOOGEL, SJ justru tidak bisa hadir, karena sakit dan harus kembali ke Belanda. Info lengkap dapat dibaca di sini.
JADWAL MISA
Misa Harian
Senin-Sabtu     : 05.30 WIB
Jumat Pertama : 05.30 WIB
Misa Mingguan
Sabtu     : 16.30 WIB
Minggu : 06.00, 08.00, 16.30 WIB

Pentas Budaya Seniman Lima Gunung

Setelah Misa bersama Mgr. Johanes Pujasumerta selesai rangkaian kegiatan mengenang 150 tahun Romo Van Lith ditutup dengan pentas budaya bersama seniman Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) yang bertajuk Pancadriya Kuwalik (Pancaindera terbalik). Para seniman lima gunung memulai prosesi yang menggambarkan kedatangan Romo van Lith di tanah misi Muntilan dengan memasuki gerbang kompleks Gereja.Para seniman yang tampil antara lain ‘Warok Bocah’, ‘Bedoyo Kuwalik’, ‘Geculan Bocah’, ‘Buto Ijo’, ‘Buto Edan’, ‘Topeng Ireng’, ‘Lengger Gunung’.


Perayaan Ekaristi Peringatan 150 Tahun Kelahiran Rm. Van Lith di Muntilan

Franciscus Georgius Josephus Van Lith
Dalam rangka memperingati 150 tahun Rama F. Van Lith SJ, mulai tanggal 24-26 Maret 2013 digelar berbagai macam kegiatan dengan tema "Dari Muntilan Merajut Indonesia". Rangkaian peringatan ini diisi berbagai macam acara, seperti lomba essai, panggung anak muda, pagelaran wayang wahyu, sarasehan, pemutaran film Soegija, penampilan seniman lima gunung, dan ditutup dengan Perayaan Ekaristi Syukur bersama Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta.
Di bawah ini beberapa foto yang terekam kamera.
Mgr. Johanes Pujasumerta memberkati altar

memimpin doa

Mgr. Johanes Pujasumerta memimpin Misa

berfoto bersama diakhir misa